Pesan Keras Gontor untuk Istana: Kami Didik Bangsa, Bukan Cetak Penjilat

By Admin


Presiden Prabowo Subianto Bersama Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Akrim Mariyat

nusakini.com, Perayaan satu abad sebuah lembaga sering kali hanya terjebak menjadi panggung glorifikasi dan puji-pujian semata. Namun, anomali berani justru ditunjukkan oleh Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor saat menyampaikan pidatonya di hadapan kepala negara pekan ini.

Di tengah lautan ribuan tamu kehormatan, KH Hasan Abdullah Sahal menolak larut dalam euforia seremonial belaka. Ia justru memanfaatkan momentum tersebut untuk menampar kesadaran publik dengan kritik tajam mengenai krisis moral di negeri ini.

Sindiran keras itu meluncur tanpa beban saat ia menyoroti fenomena hilangnya rasa malu dan integritas pada masyarakat modern. "Orang tidak punya muka cari muka," ujarnya yang seketika memicu riuh tawa sekaligus perenungan mendalam dari para hadirin.

Sentilan tersebut sejatinya merangkum kegelisahan sang kiai terhadap budaya menjilat yang kerap mewarnai dinamika status sosial dan kekuasaan. Bagi sang pimpinan pondok, kehormatan sejati lahir dari pengabdian, bukan dari validasi apalagi kecenderungan menghamba pada penguasa.

Luar biasanya, pisau kritik Kiai Hasan tidak hanya menyasar pihak luar, tetapi juga menembus tajam ke jantung hierarki pesantrennya sendiri. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto, ia berani menguliti potensi arogansi kepemimpinan yang mungkin hinggap pada para tokoh agama.

Jarak gaya hidup antara pemimpin dan bawahan dianggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap nilai kesederhanaan warisan pendiri pondok. "Kalau apa yang saya makan, apa yang saya pakai, apa yang saya tempati, apa yang saya kerjakan lebih daripada santri, boleh diprotes, boleh dikritik, boleh didemo," tegasnya lantang.

Keberanian menghalalkan demonstrasi dari santrinya sendiri ini seakan menjadi tamparan bagi elitis yang kerap berlindung di balik jubah otoritas keagamaan maupun jabatan. Sikap ini memperlihatkan standar absolut bahwa keteladanan seorang pemimpin harus berani diuji dan dipertanggungjawabkan secara nyata di mata publik.

Tidak berhenti di situ, refleksi kelam masa lalu kawasan pendidikan tersebut juga dikuliti tanpa basa-basi oleh Kiai Hasan. Ia secara terbuka mengingatkan bahwa area itu dulunya lekat dengan kesyirikan dan kemaksiatan, sebelum akhirnya sukses diubah menjadi ruang yang menginspirasi.

Melalui kilas balik tersebut, ia menolak keras jika generasi muda hanya dididik untuk menjadi pengekor pasif dalam lembaran sejarah bangsa. "Gontor cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah, tidak menyerah pada sejarah," tantangnya dengan sorot mata penuh keyakinan. (*)